hai sahabat blogger
sdah lama tidak buka blog ni..
hehe
maklum agak sedikit sibuk
oh ya saya mau share mengenai pabrik Amonia
semoga bermanfaat ya
PABRIK
AMMONIA
Pabrik Ammonia berfungsi untuk menghasilkan
ammonia dari bahan baku gas alam, udara, dan steam. Ammonia ini nantinya akan
digunakan sebagai bahan baku di Unit Urea, sebagian lagi dijual ke pihak luar.
Selain ammonia, juga menghasilkan CO2 sebagai hasil samping, yang
juga digunakan di Unit Urea.
Tahapan-tahapan proses yang terjadi di Unit Ammonia P-IV adalah:
·
Pengolahan Gas Alam
(Feed Treating)
·
Pembuatan Gas Sintesa
(Reforming Syn-Gas)
·
Pemurnian Gas Sintesa
(Syn-Gas Purification)
·
Sintesa Ammonia
(Ammonia Synthesis)
·
Pendinginan Ammonia
(Ammonia Refrigeration)
1 Pengolahan Gas Alam (Feed Treating)
1.1 Deskripsi proses dan diagram alir.
Gas
Alam harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi spesifikasi yang disyaratkan
oleh tahapan proses di Pembuatan Gas Sintesa. Spesifikasi tersebut antara lain
bahwa gas alam tersebut tidak boleh mengandung Sulfur, HHC (Heavy Hydrocarbon),
dan CO2.
Ada
beberapa tahapan prosesnya:
·
Penyaringan (Pemisahan
Partikel Padat)
·
Penghilangan Sulfur
dengan katalis ZnO Desulfurizer 201-D
·
Dehidrasi Gas Alam
dengan Glycol Absorber(201-L)
·
Pemisahan HHC (Heavy
Hydrocarbon)
·
Pemisahan CO2
(CO2 Removal Feed Treating)
·
Penghilangan Sulfur dengan
Co-Mo ZnO Desulfurizer (101-D& 108D)
·
Penjenuhan Gas Alam
dengan Saturator 301-E
1.1.1 Desulfurizer.
·
Fungsi
Mengikat sulfur yang terkandung di dalam
gas alam dalam bentuk H2S.
·
Filosofi proses.
Sebelum dilakukan penghilangan sulfur dilakukan terlebih dahulu
pemisahan partikel padat. Pemisahan partikel padat dilakukan secara fisik yaitu
dengan mengalirkan gas melalui filter separator (202-L) yaitu didalamnya
terdapat 6 (enam) buah filter cartridge yang dapat diganti-ganti dan kawat
saringan (wire mesh extractor) yang berfungsi untuk menyaring kotoran-kotoran
padat / debu (solid particle) dan cairan (liquid droplet) yang lolos dari gas
metering station, kotoran ini harus
dipisahkan karena mengganggu pada proses desulfurisasi. Pada unit penyaringan
ini dipasang alat penunjuk pressure drop, sehingga tingkat kekotoran bisa
dengan mudah diamati. Dengan demikian dapat diketahui kapan filter harus
dibersihkan.
Setelah dilakukan penyaringan dan pemanasan oleh LS feed gas masuk ke
201-D untuk menghilangkan sulfur. Sulfur perlu
dihilangkan dari gas alam karena
:
Ø Dapat mereduksi inhibitor pada system benfield
Ø Akan terbawa oleh gas CO2 dan akan merusak
compressor CO2 di Urea
Ø Menambah beban 101
D & 108 D.
Ø Merupakan racun bagi catalyst pada proses reforming.
Katalis
yang digunakan adalah ZnO. Reaksinya adalah sebagai berikut :
H2 S+ ZnO→ ZnS+
H2O
·
Deskripsi proses
Gas
alam sebelum masuk 201-D disaring terlebih dahulu di 202-L dan dipanaskan dalam
Jacket Water Pipe. Dari 201-D, aliran gas dikirim ke Glycol Absorber
·
Target :
Konsentrasi
H2S outlet dibawah 2 ppm.
·
Parameter yang
dikontrol
Ø Temperatur dijaga 380C.Temperatur dijaga
dengan mengatur steam yang digunakan untuk memanaskan gas alam.Temperatur yang
rendah (<270C) akan memperlambat laju reaksi, sedangkan temperatur
yang terlalu tinggi (˃110 0C) akan merusak katalis.
Ø Sulfur outlet <1 ppm.
1.1.2 Dehidrasi.
·
Fungsi
Menyerap H2O dari campuran gas alam.
·
Filosofi proses
Penghilangan kadar air dari gas alam perlu dilakukan
karena merupakan syarat di tahapan penghilangan HHC. Gas alam dan HHC
dipisahkan berdasarkan titik embun, dimana HHC akan mengembun pada Temperatur
sekitar -180C. Pada Temperatur ini air akan membeku, sehingga akan
mengganggu proses (menyebabkan penyumbatan). Maka dari itu kandungan air dalam
gas alam sebelumnya perlu dihilangkan.Penyerapan air dalam campuran gas dengan
menggunakan larutan Tri-Etylene Glicol (TEG).
·
Deskripsi proses
:
Gas alam keluar Desulfurizer masuk ke dalam Glycol
Absorber kontak dengan larutan Tri-Ethylene Glycol (TEG) yang akan menyerap air
dalam gas alam. Gas alam masuk melalui bottom absorber melewati mikro scrubber
untuk memisahkan cairan yang terbawa oleh gas.Absorber ini memiliki 10 buah
bubble-cap tray agar kontak gas-cairan lebih baik.Absorber juga dilengkapi
dengan Demister di bagian atas untuk mencegah larutan TEG terbawa aliran gas
keluar Absorber.
Larutan TEG keluar dari Absorber yang jenuh dengan air
dialirkan ke Still Coloumn untuk memisahkan airnya, dengan memanaskan larutan
TEG pada Temperatur 2040C di Reboiler dan bantuan stripping dari gas
alam agar air menguap dan dibuang ke atmosfir.Selanjutnya larutan TEG yang
sudah diregenerasi dikembalikan lagi ke Absorber dengan pompa 201-LJ.
·
Target :
Gas alam keluar Glycol Absorber bebas dari air.
Parameter yang dikontrol :
Ø Aliran Glycol
Aliran
Glycol yang terlalu rendah menyebabkan penyerapan air kurang sempurna.Aliran
glycol dijaga dengan menjaga tekanan suction 201-LJ 28 kg/cm2.
Ø Temperatur glycol dijaga 440C atau beda temperatur
antara glycol dan feed gas ± 6 0C,
jika dibawah 6 0C dikhawatirkan terjadi kondensasi hydro carbon
sehingga terbentuk foaming jika lebih maka penyerapan air tidak maksimal karena
dengan tingginya temperatur ada kemungkinan ada larutan glycol yang terbawa bersama
aliran gas.
Ø Temperatur Reboiler di jaga 210 0C
Ø Kandungan air pada larutan Lean Glycol dikontrol
dengan mengatur aliran steam pada Glycol Reboiler. Jika kandungan air pada
larutan Glycol lebih tinggi dari 0,2 % maka proses penyerapan air menjadi tidak
optimal.
Ø Perhatikan level glycol
reservoir = ± 50%.
Ø Perhatikan / atur stripping
gas bila H2O lean glycol ³ 0.2% tambah stripping gas untuk mencegah naiknya DP / buntunya tube di HHC sistem, tapi harus diperhatikan kemungkinan cepat
hilangnya glycol.
Ø Parameter keberhasilan
absorbs di 201-L diliat dari kandungan air pada rich lean sekitar 2.14% dan ΔP
di 203-C (<2 kg/cm2).
1.1.3 Pemisahan HHC (Heavy Hydrocarbon).
·
Fungsi.
Mengembunkan
dan memisahkan HHC dari campuran gas keluar Glycol Absorber.
·
Filosofi proses.
Penghilangan HHC perlu dilakukan karena temperatur
pada reforming sangat tinggi sehingga HHC akan terdekomposisi menjadi arang
yang akan menutupi pori-pori katalis. Prinsip pemisahan HHC dari gas adalah
perbedaan titik embun dimana HHC akan mengembun pada temperatur -18 0C
sedangkan feed gas masih dalam fasa
gas.
·
Deskripsi
proses.
Gas
alam dari Glycol Absorber dibagi menjadi dua arus. Arus pertama masuk ke dalam
bagian shell Heat Exhanger 204-C, dan didinginkan dengan gas alam bebas HHC.
Sementara arus kedua masuk ke dalam bagian tube Heat Exchanger 206-C, dan
didinginkan dengan HHC cair yang sudah terpisah dengan gas alam. Kedua arus ini
kemudian bergabung kembali dan masuk ke dalam bagian tube Chiller 203-C dengan temperatur sekitar 30C untuk didinginkan
dengan ammonia cair dari 111-F (2nd
stage refrigation flush drum). Gas keluar 203-C
kemudian masuk ke Separator 206-F di mana terjadi pemisahan HHC dan gas alam.
Gas alam bebas HHC outlet 206-F dimanfaatkan sebagai pendingin di 204-C dan HHC
cair sebagai pendingin di 206-C.
Gas
alam bebas HHC kemudian dikirimkan ke CO2 Removal, sementara HHC
dipanaskan di 205-C agar menjadi gas kembali dan dikirimkan ke Fuel Gas System.
·
Target.
Campuran gas yang keluar dari Feed-Fuel Separator
tidak lagi mengandung HHC.
·
Parameter yang
dikontrol.
Ø Temperatur outlet 206-F dijaga -18 0C dengan
mengatur secara otomatis bukaan valve ammonia yang masuk ke sisi shell 203-C.
Ø Bila DP inlet/outlet 204-C/206-C > 2 kg/cm2, injeksi methanol dan
perhatikan level 206-F jaga dilevel 40%.
1.1.4 Pemisahan CO2 (CO2 Removal Feed Treating).
·
Fungsi.
Menghilangkan
kandungan CO2 dari campuran gas.
·
Filosofi proses.
Pada
unit in kandungan CO2 didalam gas diturunkan sampai menjadi
sekitar 0,5 % hal dilakukan untuk
mencegah kemungkinan terjadinya reaksi metanasi pada desulfurizer 101-D&
108-D dimana katalis Cobalt Molibdenum
dapat merubah CO2 dan H2 menjadi metana diikuti pelepasan
panas. Selain itu CO2
yang ada pada umpan gas alam ke Primary Reformer akan menyebabkan penurunan
konversi (kesetimbangan bergeser ke kiri). Dan CO2 sendiri merupakan
produk samping yang sudah bisa diambil lebih dahulu sehingga mengurangi beban
proses tahap berikutnya.Selain itu Penyerapan
CO2 menggunakan larutan Benfield (K2CO3).
Larutan
Benfield adalah larutan yang mengandung K2CO3 yang dapat
menyerap CO2, dengan tambahan zat aditif yang menaikkan laju
penyerapan(Diethanol amine-DEA), mencegah korosi(V2O5),
dan mencegah terjadinya foaming(UCON 500 HB).
Reaksi
yang terjadi di Absorber 201-E adalah :
K2CO3 +
2CO2
+ H2O←→ 2KHCO3 + Q
Reaksi pada absorber dilakukan pada tekanan tinggi dan
temperatur rendah (25 kg/cm2, 930C karena kelarutan gas
lebih tinggi pada tekanan tinggi.
Reaksi
yang terjadi di Stripper 202-E adalah :
2KHCO3 + Q
←→ K2CO
3 +
2CO2
+ H2O
Reaksi pada stripper dilakukan pada tekanan rendah dan
temperatur tinggi (1,43 kg/cm2, 1290C) karena mempermudah
melepas kandungan gas yang terlarut dalam larutan.
·
Deskripsi
proses.
Gas alam dari 206-F (H2O absorber) menuju
201-E (CO2 absorber). Sebelum masuk 201-E gas alam dipanasin dulu di
201-C dengan memanfaatkan panas gas alam yang keluar dari 201-E. Gas
alam masuk ke dalam CO2 Absorber dari bagian bawah dan dikontakkan
dengan lean Benfield yang mengalir dari bagian atas absorber. Kontak antara gas
alam dengan lean Benfield dibantu dengan adanya bed packing di bagian tengah
dan liquid distributor di bagian atas dan tengah. Lean Benfield akan mengikat
CO2 sehingga keluar dari bottom absorber dalam keadaan kaya CO2
(rich Benfield). Larutan Rich Benfield kemudian dialirkan ke regenerator (CO2
Stripper) untuk pelepasan CO2 dengan cara penurunan tekanan dan
pemanasan di reboiler 202-C. Lean Benfield yang keluar dari bottom stripper
dipompa dengan pompa 201-J dan di kembalikan ke puncak CO2 Absorber.
Gas
alam dari Absorber ditukarkan
panasnya dengan aliran gas alam dari 206-F di 201-C, kemudian didinginkan lagi
dengan CW di 207-C, kemudian dialirkan ke KO Drum 201-F
untuk memisahkan liquid yang terikut, kemudian dialirkan ke unit desulfurisasi
tahap kedua. Sedangkan CO2 yang keluar dari bagian atas stripper
didinginkan oleh 208-C
dan dipisahkan liquidnya di 209-F (make up CO2 product KO drum)
untuk selanjutnya CO2 dikirim ke Unit Urea.
·
Kondisi operasi
dan Parameter yang dikontrol.
Ø Kondisi operasi pada 201-E adalah pada tekanan 25
kg/cm2 dan temperatur 930C.
Ø Temperatur striper (±129 0C)diatur dengan
mengontrol jumlah steam yang digunakan pada 202-C dan tekanan 1.43 kg/cm2.
Jika temperatur terlalu rendah menyebabkan pelepasan CO2 tidak
sempurna sehingga lean glycol masih mengandung banyak CO2 pada
akhirnya penyerapan CO2 di Absorber tidak optimal.
Ø Flow Benfield ke Absorber. Aliran lean Benfield
dikontrol dari FRC-205 sekitar 5-6 div (1 div= 15 m3/h) dan speed pompa
201-J <4000 rpm.
Ø Tekanan discharge pompa 201 J/JA= 32 kg/cm2.
Ø Jaga/atur
suhu NG ke 201-F = 40 – 50 oC dengan CW 207-C.
Ø Jaga suhu 203-F (Benfield
storage) = 60 – 70 oC.
pendinginan amoniak belum ada
BalasHapusini pabrik amonia di PT apa ya ?
BalasHapusPusri -IV ya ?
BalasHapus